Jakarta (FIKES UNAS) — Viralnya buku Memoar Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah karya aktris Aurelie Moeremans di kalangan remaja dan dewasa muda memicu perbincangan luas di media sosial. Kisah yang sarat konflik emosional tersebut dinilai merepresentasikan kegelisahan, luka batin, serta dinamika relasi yang kerap dialami remaja. Menyikapi fenomena ini, redaksi mewawancarai dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nasional terkait relevansinya dengan isu kesehatan mental dan kesehatan reproduksi remaja.
Menurut Ns. Nita Sukamti, M.Kep., CBMHN, dosen keperawatan jiwa FIKES UNAS, popularitas buku Broken Strings menunjukkan bahwa remaja saat ini sedang mencari ruang untuk memahami dan mengekspresikan emosi mereka.
“Ketika sebuah buku menjadi viral di kalangan remaja, itu menandakan adanya isu yang dekat dengan pengalaman mereka. Dalam konteks Broken Strings, kita melihat gambaran tekanan psikologis, relasi yang tidak sehat, dan kebingungan emosi yang sangat berkaitan dengan kesehatan mental remaja,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kesehatan mental dan kesehatan reproduksi merupakan dua aspek yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan dalam proses tumbuh kembang remaja.
“Remaja yang mengalami masalah kesehatan mental, seperti stres berkepanjangan atau trauma emosional, memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami masalah kesehatan reproduksi, termasuk pengambilan keputusan yang tidak aman. Karena itu, edukasi harus diberikan secara komprehensif, tidak parsial,” ujarnya.
Dalam wawancara tersebut, dosen FIKES UNAS juga menyoroti pentingnya pendekatan edukasi yang ramah remaja dan berbasis evidence. Ia menilai bahwa pendekatan yang menggurui atau menakut-nakuti justru dapat membuat remaja menutup diri.
“Remaja membutuhkan ruang aman untuk bertanya dan berdiskusi. Edukasi kesehatan reproduksi tidak cukup hanya menjelaskan aspek biologis, tetapi juga harus membahas emosi, relasi sehat, persetujuan (consent), dan kemampuan mengenali batasan diri,” tambahnya.
Terkait fenomena buku Broken Strings, ia melihatnya sebagai peluang edukatif apabila disikapi dengan bijak oleh orang dewasa.
“Buku atau karya populer bisa menjadi pintu masuk dialog. Tugas pendidik dan tenaga kesehatan adalah mendampingi, meluruskan pemahaman, dan mengaitkannya dengan informasi kesehatan yang benar agar remaja tidak salah menafsirkan pesan,” tuturnya.
FIKES UNAS sendiri terus mendorong penguatan peran perawat sebagai edukator kesehatan remaja melalui kegiatan akademik, riset, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan kolaborasi antara institusi pendidikan, keluarga, dan layanan kesehatan, diharapkan remaja Indonesia dapat tumbuh sehat secara mental, matang secara emosional, serta bertanggung jawab terhadap kesehatan reproduksinya.
Broken Strings menjadi pengingat bahwa isu kesehatan remaja perlu didekati dengan empati, dialog terbuka, dan edukasi berbasis bukti agar benar-benar berdampak pada kesejahteraan generasi muda.


